Batu-batu Kali yang Polos.

Derek Prince
*First Published: 2008
*Last Updated: Maret 2026
2 min read
Boleh saja seseorang bertobat dari dosa-dosanya, kemudian meng-klaim keselamatan di dalam Kristus. Namun itu tidak berarti seluruh karakternya sudah langsung berubah. Suatu proses perubahan yang sangat penting telah dimulai, namun mungkin perlu waktu bertahun-tahun sebelum perubahan itu benar-benar terjadi dan terlihat dalam setiap aspek dari karakternya.
Daud memerlukan batu-batu kerikil yang polos untuk katapelnya. Dengan batu itu ia hendak merobohkan raksasa Goliat. Untuk itu ia harus pergi ke suatu kali yang berada di sebuah lembah – tempat yang rendah sekali, yang melambangkan kerendahan hati. Di situ ia menemukan batu-batu yang dibutuhkannya. Bagaimanakah batu-batu kerikil itu menjadi polos begitu? Batu-batu itu telah “merasakan” dua macam tekanan: yang pertama, air yang mengalir deras di sungai itu. Yang kedua, di sungai batu-batu itu saling berbenturan.
Itulah sebuah ilustrasi yang menggambarkan bagaimana caranya Tuhan membentuk karakter orang Kristen. Yang pertama, ada sungai Firman Tuhan yang mengalir dengan deras dan terus-menerus membasuh kita (lihat Efesus 5:26).
“Efesus 5:26”
Yang kedua, kita dibuat berbenturan satu sama lain dalam hubungan persaudaraan kita, lalu ujung-ujung yang tajam dari batu itu secara berangsur-angsur terkikis sehingga menjadi mulus. Memang, kita adalah “batu-batu hidup” yang perlu dikikis dan dihaluskan secara terus-menerus. (Lihat 1 Petrus 2:5.)
“1 Petrus 2:5.”
Ijinkan saya memberikan komentar tambahan: Yesus pun membutuhkan “batu-batu hidup” untuk “katapel”-Nya, dan untuk itu Ia juga harus turun ke dalam lembah – merendahkan diri. Di situ Ia memilih batu-batu yang sudah tidak “tajam” lagi, karena sudah dipoles dan dihaluskan oleh “air” Firman Tuhan dan oleh tekanan-tekanan yang dialami karena harus terus bersekutu dan bergesekan dengan saudara seiman yang lain. Sesungguhnya kita akan menjadi dewasa rohani setelah bisa mengasihi sesama saudara seiman. Bukan karena mereka pantas untuk dikasihi, melainkan karena Yesus sendiri begitu mencintai mereka, sehingga Ia rela mencurahkan darah kehidupan-Nya untuk mereka masing-masing.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena darah Yesus. Ku-deklarasikan dengan rendah hati bahwa kubiarkan diriku dibasuh oleh Sabda Tuhan dan kuberjanji untuk mencintai sesama saudara seiman dengan tulus hati. Darah Yesus Kristus, Anak Allah, senantiasa menyucikanku dari segala dosa. Amin.
Kode: WD-B097-028-IND