Logo
Logo
Learn
Buku-bukuKursus AlkitabSumber
PenjangkauanTentang
Indonesia Flag Icon

Menu

  • Home
  • Learn +
    • Penjangkauan
    • Tentang +
      • Bergabung +
        • Kontak +

            Dapatkan eBook Gratis

            Mulailah koleksi Derek Prince anda dengan eBook gratis berjudul Bagaimana Beralih Dari Kutuk Kepada Berkat saat anda berlangganan buletin kami.

            Pengajaran Alkitab Gratis
            Logo
            Logo
            HomeLearnPenjangkauanTentangBerikan Donasi

            Hak Cipta © 2026 Pelayanan Derek Prince. Seluruh hak cipta

            KontakKerahasiaan PribadiHak CiptaLicensesPeta Situs
            Rumah
            Sumber
            Darah itu “Berbicara”

            Darah itu “Berbicara”

            Derek Prince

            Derek Prince

            Menyukai
            Membagikan
            Bahasa Indonesia

            *Article Language

            Kirimkan Kesaksian

            Menawarkan

            Memberi

            *First Published: 2008

            *Last Updated: Maret 2026

            2 min read

            Tahukah Anda bahwa darah Yesus senantiasa berbicara bagi Anda di hadirat Allah sendiri? Tidak seperti darah Habel yang berseru menuntut pembalasan, darah Kristus justru memohonkan belas kasihan atas hidup Anda saat ini juga.

            Ada lagi suatu persediaan luar biasa yang diberikan bagi kita oleh darah Yesus, namun banyak orang Kristen kurang menyadarinya.

            Ibrani 12:22, 24 berkata:

            “Tetapi kamu [maksudnya, kalian, yaitu semua orang yang percaya] sudah datang ke Bukit Sion … kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat daripada darah Habel.”

            Di Bukit Sion yang di surga, di hadapan hadirat Allah sendiri, darah Yesus dipercikkan untuk kita di dalam Ruangan Yang Maha Kudus. Kristus telah mendahului kita ke tempat ini, setelah Ia memperoleh penebusan kita yang kekal melalui pengorbanan-Nya. Dan Ia telah memercikkan darah penebusan itu di hadapan hadirat Allah, Bapa yang Mahakuasa.

            Ada suatu perbandingan yang dilakukan di dalam ayat ini, suatu perbandingan yang penting. Pada permulaan sejarah umat manusia, Kain (anak sulung Adam dan Hawa) telah membunuh adiknya, Habel. Selanjutnya Kain menolak untuk mengaku tanggung jawabnya.

            Tetapi Tuhan menantang Kain dan berkata:

            “Tidak mungkin engkau bisa menyembunyikan dosamu, karena darah adikmu, yang telah kautumpahkan ke bumi, kini menjerit terus kepada-Ku meminta pembalasan.”

            (Lihat Kejadian 4:1-15.) Sebaliknya, darah Yesus yang dipercikkan di surga berseru bukan untuk suatu pembalasan, melainkan supaya memberi pengampunan. Darah Yesus berseru dengan tiada henti-hentinya di hadapan hadirat Tuhan, agar Ia sudi untuk memberikan pengampunan.

            Cukup sekali saja kita bersaksi secara pribadi mengenai kuasa darah Yesus. Tidak perlu untuk terus-terusan mengulangi kata-kata itu setiap berapa menit. Karena darah Yesus sendiri berbicara terus bagi kita di hadapan hadirat Allah. Tiap kali kita sedang mengalami kesusahan, cobaan, atau menjadi takut dan khawatir, semestinya kita mengingat kembali: Pada saat ini juga darah Yesus masih berbicara di dalam hadirat Tuhan untuk membela diri kita.

            *Prayer Response

            Terima kasih, Tuhan, karena darah Yesus. Ku-deklarasikan bahwa darah-Nya sampai sekarang terus berbicara kepada Tuhan, memohonkan belas kasihan-Nya. Darah Yesus Kristus, Anak Allah, senantiasa mengampuniku dari segala dosa. Amin.

            Aku Sudah Berdoa
            Menyukai
            Membagikan
            Expand Content

            What People Say

            See how Darah itu “Berbicara” has impacted lives across the globe.

            "I've applied the Biblical principles on family relationships from this teaching, and it has completely restored harmony in our home. My teenagers and I now have meaningful conversations about faith, and my marriage has been strengthened in ways I never thought possible."
            Elena R., Brazil
            "The teachings on spiritual warfare completely transformed my approach to daily challenges. I used to feel overwhelmed by life's obstacles, but now I understand how to stand firm in faith. This teaching gave me practical tools I use every single day."
            Sarah K., California
            "After 20 years of struggling with unforgiveness, the Biblical principles shared in this teaching helped me release the bitterness I had been carrying. The step-by-step approach to forgiveness wasn't just theory—it actually worked in my life when nothing else had."
            Michael T., United Kingdom
            "As a new Christian, I was confused about many aspects of faith. These teachings provided clear, Scripture-based explanations that helped build my foundation. I'm especially grateful for how the content made complex concepts accessible without watering down the truth."
            Priya M., India
            "The teaching on God's sovereignty during difficult times came to me exactly when I needed it most. After losing my job and facing health challenges, this message reminded me that God remains in control. It gave me hope when I had none left."
            James L., Australia
            "I've applied the Biblical principles on family relationships from this teaching, and it has completely restored harmony in our home. My teenagers and I now have meaningful conversations about faith, and my marriage has been strengthened in ways I never thought possible."
            Elena R., Brazil
            "The teachings on spiritual warfare completely transformed my approach to daily challenges. I used to feel overwhelmed by life's obstacles, but now I understand how to stand firm in faith. This teaching gave me practical tools I use every single day."
            Sarah K., California

            Kode: WD-B097-027-IND

            Hadiah
            Memberi
            Kirim Masukan