Umat Kristen bertanggung jawab atas pemerintah yang memimpin negeri mereka. Jika Anda mengurangi kecaman Anda terhadap pemerintah dan memakai lebih banyak waktu untuk mendoakannya, maka akan semakin berkurang pula hal-hal yang selama ini Anda kecam.

Berdoa Bagi Pemerintah.Ada berbagai macam cara yang dapat dipakai Gereja untuk membuat otoritasnya berdampak efektif bagi negara. Saya menyarankan empat cara: berdoa, bersaksi, berkhotbah, dan melakukan kebaikan. Ini adalah cara-cara utama yang diharapkan Tuhan untuk dikerjakan Gereja dalam menebarkan pengaruhnya.

Ada berbagai macam cara yang dapat dipakai Gereja untuk membuat otoritasnya berdampak efektif bagi negara. Saya menyarankan empat cara: berdoa, bersaksi, berkhotbah, dan melakukan kebaikan. Ini adalah cara-cara utama yang diharapkan Tuhan untuk dikerjakan Gereja dalam menebarkan pengaruhnya.

Dalam II Tawarikh 7:14 kita membaca: “(jika) umatKu, yang atasnya namaKu disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajahKu, lalu berbalik dari jalanjalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka”. Ini adalah pewahyuan yang diberikan Tuhan kepada Salomo sesudah ia menahbiskan rumah Tuhan. Sejumlah orang pasti berpikir demikian: janji ini diberikan kepada Salomo dahulu kala di jaman Perjanjian Lama dan tidak ada hubungannya lagi dengan kita sekarang ini. Saya akan menanggapi pendapat ini secara singkat.

Dalam II Korintus 1:20, kita membaca:“Sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah”. Di ayat itu disebutkan “semua janji” – bukan sebagian janji! Bukan hanya di waktu lampau, atau waktu yang akan datang - melainkan sekarang ini! Bukan hanya “ya”, melainkan, kalau Anda masih juga ragu, “Ya” dan “Amin”! Oleh Dia (Kristus) kita mengatakan “amin” untuk memuliakan Allah. “Kita” di ayat itu merujuk kepada semua orang Kristen, termasuk Anda dan saya. Bagaimana kita memuliakan Tuhan? Dengan mengklaim teguh janjijanjiNya! Semakin banyak janji Tuhan yang kita klaim, semakin kita memuliakan Tuhan. Semua janji Tuhan tersedia bagi kita melalui Kristus saat ini.

Kembali kepada janji di II Tawarikh 7:14, saya percaya Anda dapat melihat bahwa janji itu merujuk kepada Anda dan saya sekarang ini! Tuhan berbicara tentang “…umatku, yang atasnya namaKu disebut". Umat Tuhan adalah mereka yang atasnya nama Tuhan disebut. Jika Anda seorang Kristen, apakah itu artinya? Artinya, nama Kristus dipakai untuk menyebut Anda. Anda dihubungkan dengan nama Kristus. Anda dikenali sebagai orang Kristen melalui nama Kristus. Jadi janji ini berlaku untuk semua orang Kristen: umat Tuhan yang atasnya nama Kristus disebut.

Tuhan berkata jika umatNya bersedia melakukan empat hal, maka Ia akan melakukan tiga hal. Umat Tuhan harus melakukan empat hal terlebih dahulu, sebelum Tuhan melakukan tiga hal yang sudah dijanjikan akan dilakukanNya. Jadi, ini adalah janji yang bersyarat. Tuhan tidak mengatakan bahwa Ia akan melakukan ketiga hal itu tanpa syarat, melainkan berkata, “Jika umatKu memenuhi persyaratanKu,Aku akan melakukan hal-hal ini”.

Di bagian akhir ayat pertama, kita melihat bahwa hal terakhir yang Tuhan akan lakukan untuk umatNya adalah memulihkan negeri mereka. Jelas, yang dimaksudkan adalah negeri tempat mereka tinggal. Tuhan mengatakan bahwa kekuasaan untuk melakukan hal-hal yang dapat membuat Tuhan memulihkan negeri tempat mereka tinggal itu sebenarnya ada di tangan umat Tuhan sendiri. Perhatikanlah negeri tempat kita hidup. Apakah perlu dipulihkan? Hanya satu jawabannya: Ya! Keadaan negeri yang perlu dipulihkan ini menunjukkan bahwa umat Tuhan telah gagal melakukan hal yang telah Tuhan perintahkan. Tanggung jawab itu terletak di pundak kita – bukan di pundak para pecandu narkoba, para pelacur, atau orangorang yang tidak pernah datang ke gereja. Tanggung jawab itu terletak di pundak orang-orang yang atasnya nama Kristus disebut!

Jika negeri kita belum juga dipulihkan, hanya satu penyebabnya. Kita belum melakukan hal-hal yang dipersyaratkan Tuhan. Saya percaya inilah kebenaran yang sesungguhnya. Hal ini sama dengan mengatakan apa yang Yesus sampaikan di Matius 5:13: “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang”. Jika negeri kita tidak dipulihkan dengan adanya kehadiran kita berarti kita telah menjadi garam yang tawar.

Apakah fungsi garam? Pertama-tama, garam memberikan rasa. Selama kita berada di atas muka bumi, kita memberikan rasa kepada bumi di hadapan Tuhan. Dengan perkataan lain, Tuhan berkenan kepada dunia karena adanya umat Kristen. Tuhan menghadapi dunia dengan anugerah dan belas kasihan dan bukan dengan murka dan penghakiman oleh karena kehadiran kita.

Saya percaya dengan sepenuh hati bahwa di mana pun kita berada, kita memberikan dampak ke sekeliling kita. Saya menyadari hal ini pada saat Perang Dunia II. Para prajurit lain ditempatkan di wilayah yang lebih aman dari pada tempat saya berada waktu itu. Prajurit-prajurit yang belum dipindahkan ke tempat yang lebih aman menyadari hal ini. Ketika kami dalam keadaan terjepit di padang pasir Afrika Utara, sejumlah prajurit yang suka mengumpat berpaling kepada saya dan berkata, “Kopral Prince, aku senang kamu ada bersama-sama kami”.Apa yang dikatakan Elisa kepada Elia? “Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!” (2 Raja-raja 2: 12). Di manakah kereta dan orang-orang itu? Bukan di sekeliling para raja melainkan di dekat kedua nabi itu.

Kita adalah umat yang menjadi benteng pertahanan negeri kita. Kita adalah patriot pembela bangsa kita. Perhatikan contoh dari kota Sodom. Abraham berkata kepada Tuhan, “Sekiranya ada sepuluh orang benar di kota itu, akankah Engkau mengampuni kota itu?” Dan Tuhan menjawab, “Ya”. Namun, Tuhan tidak dapat mengampuni kota itu karena Ia tidak dapat menemukan sepuluh orang benar di situ. Saya tidak tahu berapa jumlah penduduk Sodom, namun saya percaya bahwa perbandingan yang sama masih berlaku sekarang ini. Sepuluh orang benar dapat menyelamatkan sebuah kota seukuran kota Sodom. Seratus orang benar dapat menyelamatkan sebuah kota berukuran sepuluh kali lebih besar dari kota Sodom. Seribu orang benar dapat menyelamatkan sebuah kota yang berukuran seratus kali lebih besar dari Sodom. Dan seterusnya. Saya merasa kasihan kepada bumi ini apabila Gereja meninggalkannya. Tidak akan ada lagi garam. Murka dan penghukuman Tuhan akan dicurahkan tanpa batas atau hambatan apa pun. Namun, selama kita masih ada di bumi, kita menjadi garam untuk bumi ini.

Garam juga dapat mengawetkan. Menahan terjadinya kerusakan. Sebelum lemari pendingin diciptakan, daging diawetkan dengan menggunakan garam. Garam menghambat terjadinya pembusukan. Lalu apa fungsi kita di bumi ini? Menghambat terjadinya kerusakan. Kerusakan dalam berbagai bentuk - moral, sosial, politis. Selama kita ada di muka bumi, kita melakukan fungsi ini. Yesus berkata, “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang”. Ketika Gereja berhenti menjalankan fungsinya sebagai garam, Gereja akan dibuang dan dinjakinjak orang. Orang ini bisa saja kaum komunis, nazi, atau pengikut aliran dan faham tertentu lainnya yang saat ini belum muncul ke permukaan. Merekalah yang akan menginjak-injak Gereja yang tidak menjalankan fungsinya di dunia yaitu sebagai garam.

Apa saja yang Tuhan minta untuk dilakukan umatNya? Pertama-tama, “umatKu …merendahkan diri". Atau lebih tepatnya adalah merendahkan hati. Ini adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan oleh orang agamawi. Saya mengatakan hal ini dengan serius, bukan dengan maksud bercanda. Anda mungkin pernah mendengar orang berkata, “Tuhan, buatlah saya rendah hati.” Tuhan tidak pernah memerintahkan kita berdoa demikian. Yang Tuhan katakan adalah, “Rendahkanlah hatimu”. Tuhan tidak mengatakan, “Aku akan melakukan hal itu untukmu”. Tuhan tidak dapat membuat Anda rendah hati. Tuhan dapat membuat Anda merasa rendah dan malu, dan bila memang Ia perlu melakukan hal itu, namun satu-satunya manusia yang dapat membuat Anda menjadi rendah hati adalah Anda, diri Anda sendiri. Kerendahan hati harus datang melalui sebuah tindakan batiniah yang berasal dari kehendak Anda sendiri. Kerendahan hati tidak dapat datang dengan cara lain. Jika Anda tidak memutuskan untuk merendahkan hati, Anda dapat saja direndahkan sehina mungkin namun hati Anda tetap congkak bagai burung merak.

Syarat pertama adalah merendahkan hati dan menundukkan diri kepada Tuhan, Jika kita menundukkan diri kepada Tuhan, kita juga akan tunduk kepada firman dan otoritasNya. Anda dapat dengan mudah mengatakan bahwa Anda menundukkan diri kepada Tuhan, namun Firman Tuhan mengatakan: “rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain … . Hai isteri, tunduklah kepada suamimu … . Hai anak-anak, taatilah orang tuamu …" (Efesus 5:21-22;6:1). Inilah bagian yang tidak mudah dilakukan. Banyak orang berkata, “Saya tunduk kepada Tuhan”, namun ketika ujian datang dalam hubungan mereka dengan orang lain, terlihat jelas bahwa mereka tidak tunduk kepada Tuhan.

Jika Anda hendak merendahkan hati, Anda sendiri yang harus menjadi pelakunya. Tidak ada salahnya jika sesekali kita menundukkan diri secara harfiah di hadapan Tuhan sampai wajah kita menyentuh lantai. Pernahkah Anda melakukan hal itu? Lalu katakan, “Tuhan, inilah aku dan di sinilah tempatku! Aku ini cuma cacing. Aku berasal dari debu dan debu tanah adalah tempatku”. Apakah menurut Anda ini sikap yang fanatik? Bacalah seluruh isi Alkitab dan perhatikan kumpulan orang yang menyembah Tuhan hingga wajahnya menyentuh tanah:Abraham, Musa, Daud dan Daniel. Sama sekali tidak ada satu pun orang kudus Tuhan yang luar biasa, yang tidak tercatat bahwa mereka menyembah Allah hingga wajahnya menyentuh tanah. Jika itu adalah tempat yang baik bagi Musa, Daud, Daniel dan orang kudus lainnya, saya rasa tempat itu juga tidak akan lebih rendah dari martabatAnda.

“(Jika) umatKu, yang atasnya namaKu disebut, merendahkan diri”. Ini adalah langkah yang pertama dan Anda tidak dapat melompati langkah ini. Program rohani Tuhan sudah Dia rancang dalam beberapa tingkat: tingkat 1, tingkat 2, tingkat 3, tingkat 4. Sebelum Anda lulus dari tingkat 1, Anda tidak akan pernah dapat masuk ke tingkat 2. Meskipun mungkin Anda harus mengulang tingkat 1 sampai sepuluh tahun berturut-turut, Tuhan tetap tidak akan menaikkan Anda ke tingkat 2. Itu sebabnya beberapa dari Anda tetap berada di tingkat yang sama selama bertahun-tahun. Jangan pernah berpikir demikian, “Tuhan, aku memang gagal di tingkat 1, tapi aku akan berhasil di tingkat 2. Naikkanlah aku ke tingkat berikutnya, aku pasti akan berhasil”. Hal semacam ini tidak pernah mungkin terjadi!

Langkah kedua adalah doa. “(Jika) umatKu, yang atasnya namaKu disebut, merendahkan diri, berdoa”. Jangan berdoa sebelum Anda merendahkan hati. Kerendahan hati harus ada sebelum doa.

“Berdoa dan mencari wajahKu”. Langkah ketiga adalah mencari wajah Tuhan.Apakah artinya? Sepengertian saya, itu berarti masuk langsung ke hadiratAllah yang Maha Kuasa - di sini semua hambatan dan halangan sudah disingkirkan, dan Anda berhadapan muka dengan muka dengan Allah Yang Maha Kuasa. Anda bisa saja mengikuti pertemuan doa, tetapi itu belum menjamin bahwa Anda mencari wajah Tuhan.

Seorang pemuda menemui saya untuk mengalami baptisan Roh Kudus. Ia melayani kaum muda di sebuah gereja. Saya janjikan kepadanya untuk menemui saya lagi pada hari Rabu malam. Ia menjawab bahwa pada malam itu ia harus mengikuti pertemuan doa. Saya katakan, “Kalau begitu kita tidak bisa bertemu malam itu”. “Oh, bisa”, jawabnya lagi, “saya bisa datang malam itu, karena kami berdoa hanya dari jam 8 sampai 9”. Ini adalah pertemuan doa yang tidak mencari wajah Tuhan. Sebab, jika mencari wajah Tuhan, Anda tidak akan berhenti sebelum Anda masuk ke dalam hadirat Tuhan - meskipun itu mungkin berarti Anda harus berdoa sepanjang malam. Ada banyak sekali doa yang dilakukan tanpa mencari wajah Tuhan. Doa semacam itu belum mencapai titik hubungan langsung dengan Tuhan.

Langkah keempat: “berbalik dari jalan-jalannya yang jahat”. Siapa yang harus berbalik? Para pecandu minuman keras, anak-anak muda yang tidak mau pergi ke gereja? Bukan, melainkan semua orang Kristen - umat Tuhan! Penghambat terjadinya kebangkitan rohani terdapat di dalam Gereja, bukan di luar Gereja. Penghambat itu tidak pernah berada di luar Gereja.

Tahukah Anda di mana penghakiman dimulai? Di rumah Tuhan. “Karena sekarang telah tiba saatnya,”kata petrus, “penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi”(I Petrus 4:17). Untuk memperjelas maksud ayat itu Petrus menambahkan, “… penghakiman itu dimulai pada kita”. Lalu Petrus bertanya, "Bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?” Tuhan selalu bekerja dengan cara seperti itu. Ia selalu mulai dengan orang-orang yang mengetahui paling banyak. “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut” (Lukas 12:48). Mungkin Anda berkata, “Pak Prince, saya tidak pernah menempuh jalan-jalan yang jahat”. Jawaban saya, “Anda belum pernah sedemikian dekat dengan Tuhan sehingga mampu melihatnya. Jika Anda pernah masuk ke dalam hadirat Tuhan, Anda tentu akan melihat jalan-jalan Anda yang jahat. Justru dengan mengatakan bahwa Anda tidak pernah menempuh jalanjalan yang jahat sesungguhnya menunjukkan betapa sudah jauhnyaAnda dari Tuhan”.

Sesudah keempat langkah itu, Tuhan mengatakan “Aku akan mendengar dari sorga”. Tuhan tidak pernah berjanji untuk mendengarkan setiap doa yang dinaikkan manusia. Sadarkah Anda tentang hal itu? Saya yakin bahwa di banyak gereja, doa-doa hanya naik sampai setinggi langit-langit gedung gereja. Tuhan tidak pernah berkomitmen untuk mendengarkan setiap doa. Yang Tuhan katakan adalah, “Karena kita tahu bahwa Ia mendengarkan kita kalau kita memohon kepadaNya, maka kita tahu juga bahwa Ia memberikan kita apa yang kita minta daripadaNya” (I Yohanes 5:15, Alkitab versi Kabar Baik). Kesulitannya tidak terletak pada membuat Tuhan menjawab doa kita, melainkan membuat Tuhan mendengar doa kita.

“… maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka". Dosa siapa? Dosa para pelacur atau dosa pecandu narkoba? Bukan, melainkan dosa Gereja!

“… serta memulihkan negeri mereka” . Bagi saya persoalannya sangat jelas. Jika sebuah negeri tidak dipulihkan, kesalahannya terletak pada umat Tuhan. Saya sudah memikirkan, mendoakan, dan merenungkan hal ini. Tanggung jawab atas keadaan negeri kita saat ini terletak di pundak Gereja. Saya percaya inilah kebenaran yang sesungguhnya. Jika negeri kita tidak mengalami pemulihan, tanggung-jawabnya ada di pundak kita. Saya ikut memikul tanggung-jawab tersebut bersama Anda. Saya tidak menyampaikan sesuatu yang hanya berlaku untuk Anda namun tidak berlaku untuk saya.

Pemulihan Melalui Doa

Bagaimana kita dapat mendatangkan pemulihan? Saya akan berbicara mengenai doa. Saya akan mendasarkan pengajaran ini pada empat ayat pertama dari I Timotius pasal 2:

  • "Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang,
  • untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.
  • Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita,
  • yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.”

Mari kita perhatikan ayat-ayat di atas.

Paulus berkata, “Pertama-tama, naikkanlah doa!” Jika Anda melompati langkah berdoa ini, Anda bisa saja mempunyai berbagai rencana, sistem dan daftar kegiatan, namun Anda tidak akan mempunyai kuasa untuk mengerjakan semuanya itu. Keadaan demikian ini seperti sebuah gedung yang sudah dipasangi kabel listrik, namun kabel itu tidak terhubung pada pusat tenaga listrik. Tidak akan ada hasil apa pun. Susunan kabel dalam kedaaan baik dan tata lampunya bahkan sangat indah, tetapi Anda tidak akan mendapatkan hasil apapun, karena tidak ada tenaga listrik. Sumber tenaga dalam Gereja Kristen adalah doa, sehingga sangat masuk akal apabila Paulus mengatakan, “Pertama-tama, naikkanlah doa!”

Lalu, menurut Paulus apa yang harus kita doakan? Pertama, “untuk raja-raja dan untuk semua pembesar”. Pengalaman saya mengatakan bahwa sebagian besar orang yang mengaku sebagai umat Tuhan hampir-hampir tidak pernah berdoa bagi para pembesar dalam pemerintahan, apalagi mendoakan mereka terlebih dahulu sebelum berdoa tentang hal lain. Jika Anda seorang Kristen dari aliran Episkopal, saya percaya bahwa dalam buku doa Anda terdapat sebuah doa yang ditujukan bagi para penguasa dalam pemerintahan. Ini adalah satu hal yang baik. Namun, saya ingin menyampaikan satu hal lain berdasarkan pegalaman pribadi saya sebagai seorang Kristen aliran Anglikan. Sekadar mengucapkan kata-kata doa adalah hal yang berbeda dengan sungguh-sungguh menaikkan sebuah doa. Kedua hal ini sama sekali berbeda. Banyak sekali orang berdoa dengan hanya mengutip isi buku doa dan jika lima menit kemudian Anda bertanya kepada mereka apa yang mereka doakan, mereka sudah lupa. Doa semacam ini hanya merupakan formalitas.

Siapakah yang secara spesifik dikatakan harus kita doakan pertama-tama? “Semua pembesar”: presiden, perdana menteri, para menteri, anggota parlemen, para kepala daerah, para pejabat di kepolisian, semuanya. Sudahkah Anda berdoa untuk mereka? Kapankah terakhir kali Anda berdoa untuk pemerintah Anda? Manakah yang terakhir kali Anda lakukan untuk pemerintah Anda – mengecamnya atau mendoakannya? Jika Anda berdoa untuk orang-orang di pemerintahan, akan berkurang pula hal-hal yang selama ini menjadi bahan kecaman Anda. Tuhan tidak memanggil Anda untuk menjadi pengecam, Ia memanggil Anda untuk mendoakan pemerintah Anda. Jika Anda tidak mendoakannya, berarti Anda tidak taat kepada Tuhan. Saya adalah seorang Inggris yang menetap di Amerika Serikat, dan saya berdoa bagi presiden Amerika hampir setiap hari. Isteri saya menjadi saksinya. Kami berdoa bersama-sama, dan jarang sekali dalam satu hari kami lalui tanpa mendoakan pemimpin bangsa Amerika. Saya yakin ia memerlukan doa-doa kita. Mengapa kita harus mendoakan mereka yang duduk di pemerintahan? Inilah alasan berdoa yang paling masuk akal yang dapat saya temukan di Alkitab. Di bagian kedua dari ayat 2 kita disuruh berdoa “agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan”. Jika dirangkum menjadi satu pernyataan sederhana adalah agar ada “pemerintah yang baik". Tidakkah Anda menyetujui hal ini? Jika kita ingin hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan, kita harus mempunyai pemerintah yang baik.

Di ayat 3 Paulus melanjutkan, “Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita" . Apakah yang dimaksud dengan “itulah” dalam ayat tersebut? Yang dimaksudkan adalah penggalan ayat sebelumnya yaitu “agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan” – lebih singkatnya, “agar kita memiliki pemerintah yang baik”.

Mengapa Tuhan menginginkan pemerintah yang tenang, teratur dan baik? Karena satu alasan yang nyata dan praktis. Karena Ia menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Dalam keadaan seperti apakah kita akan lebih mudah menyampaikan kebenaran kepada semua orang? Di bawah pemerintah yang adil, tidak memihak dan menegakkan hukum, peraturan serta kebebasan dalam masyarakatnya?Atau di bawah pemerintah yang tidak dapat mengatasi kekerasan dan kekacauan dan tidak dapat mengendalikan keadaan serta bersifat tidak adil dan semena-mena? Pemerintah manakah yang lebih memudahkan kita menyampaikan kebenaran kepada semua orang? Setiap orang yang berpikiran sehat pasti akan menjawab: pemerintah yang baik. Itu sebabnya Tuhan menghendaki adanya pemerintah yang baik, karena pemerintah demikian menunjang terjadinya penyebaran Injil, yang merupakan tujuan Tuhan dalam masa anugerah ini. Tidak ada hal yang sukar, tidak ada sesuatu yang rumit, karena semuanya masuk akal dan praktis.

5
Membagikan