Logo
Logo
Learn
Buku-bukuKursus AlkitabSumber
PenjangkauanTentang
Indonesia Flag Icon

Menu

  • Home
  • Learn +
    • Penjangkauan
    • Tentang +
      • Bergabung +
        • Kontak +

            Dapatkan eBook Gratis

            Mulailah koleksi Derek Prince anda dengan eBook gratis berjudul Bagaimana Beralih Dari Kutuk Kepada Berkat saat anda berlangganan buletin kami.

            Pengajaran Alkitab Gratis
            Logo
            Logo
            HomeLearnPenjangkauanTentangBerikan Donasi

            Hak Cipta © 2026 Pelayanan Derek Prince. Seluruh hak cipta

            KontakKerahasiaan PribadiHak CiptaLicensesPeta Situs
            Rumah
            Sumber
            Mencegah Penyesatan

            Mencegah Penyesatan

            Derek Prince

            Teaching Legacy Letter

            4
            Membagikan
            Mendengarkan
            Bahasa Indonesia

            *Article Language

            Kirimkan Kesaksian

            Menawarkan

            Memberi

            *First Published: 2024

            *Last Updated: Februari 2026

            7 min read

            Koeksistensi damai. Mungkin kedengarannya seperti ide yang bagus untuk masyarakat, tetapi dalam ranah peperangan rohani, itu sama sekali tidak boleh. Apa medan pertempuran utama di mana kuasa penipuan mencoba menguasai kita? Area konflik utama adalah kepribadian dan susunan kita sendiri—campuran misterius yang terdiri dari roh, jiwa, dan tubuh. Memahami campuran inilah topik bermanfaat yang Derek bahas dalam surat ini.

            Dalam edisi revisi terbaru dari buku Perlindungan Dari Penyesatan (Protection from Deception) yang kini diterbitkan sebagai Pertempuran Sepanjang Masa (Battle of the Ages), Derek Prince memperingatkan bahaya terbesar yang akan dihadapi oleh umat Kristen di akhir zaman.

            Di Bagian 2 dari seri yang terdiri dari tiga bagian, 'Pertempuran Sepanjang Masa', kita akan mempelajari lebih lanjut tentang taktik-taktik Setan sehingga kita dapat mengenalinya, melawannya, dan menangkalnya.

            Proses Penurunan

            Sebagian besar dari kita sepakat bahwa roh, jiwa, dan tubuh membentuk kepribadian manusia seutuhnya. Kitab 1 Tesalonika 5:23 mengatakan: “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” TB

            Jiwa, yang terdiri dari kehendak, emosi dan akal budi, mungkin merupakan komponen kepribadian manusia yang paling sulit dipahami. Jiwa adalah ego unik setiap individu, bagian yang menentukan "aku mau" atau "aku tidak mau". Ketika manusia menyerahkan diri kepada tuntutan jiwa mereka, bukannya dipimpin oleh Roh Allah, mereka memisahkan diri dari Allah dan membuka celah kepada penyesatan.

            Sebuah ayat dari kitab Yakobus memberi kita gambaran tentang interaksi roh, jiwa, dan tubuh. Penjelasan dalam kitab Yakobus 3:15 adalah singkat namun mendalam: “Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan.” TB. Pasal ini menandai tahap-tahap turunnya hikmat, suatu penurunan yang memungkinkan roh-roh jahat menyusup ke dalam pekerjaan, umat, dan gereja Allah.

            Sifat keduniawian mungkin nampak tidak berbahaya. Namun, tak butuh waktu lama bagi sikap apatis untuk berakar, menyeret seseorang ke dalam alam kejiwaan, dan bahkan mungkin lebih jauh lagi ke dalam alam yang dikuasai roh-roh jahat.

            Tiga Tahap Penurunan

            1. Keduniawian

            Apa artinya menjadi duniawi? Dari sudut pandang Kristen, orang yang bersifat duniawi hanya berfokus pada kehidupan di dunia saja dan tidak lebih dari itu—tidak ada yang melampaui kehidupan ini. Jika seorang Kristen bersifat duniawi, ia mengharapkan Allah hanya memberikan berkat-berkat yang berlaku untuk kehidupan sekarang ini: kemakmuran, kesembuhan, kuasa, kesuksesan, dan tujuan-tujuan yang bersifat jiwani lainnya.

            Untuk lebih memahami manusia duniawi, ada manfaatnya mengenali individu-individu yang jelas-jelas tidak bersifat duniawi. Salah satu contohnya adalah Abraham:

            "Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah." (Ibrani 11:9-10 TB)

            Contoh kedua dari pribadi yang tidak bersifat duniawi adalah Musa, yang dijelaskan dalam kitab Ibrani 11:27:

            “Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan.” TB

            Musa dapat bertahan karena ia memandang melampaui kesulitan di masa kini kepada kepastian penggenapan janji di masa mendatang.

            Dalam kitab 1 Korintus 15:19, Paulus menulis, "Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia." Jika tujuan iman Kristen kita hanyalah untuk menerima berkat dalam kehidupan duniawi ini saja, kita adalah orang-orang yang patut dikasihani. Banyak orang telah melupakan kenyataan bahwa kita adalah orang asing yang sedang melintasi dunia ini, dan akibatnya, pikiran dan ambisi mereka kehilangan fokus yang benar. Mereka menjadi duniawi.

            2. Jiwani

            Tingkatan sifat jiwani berada di bawah sifat duniawi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, jiwa pada dasarnya adalah ego. Orang yang jiwani bersifat egosentris, hanya peduli pada diri mereka sendiri. Sementara orang rohani bertanya, "Bagaimana aku dapat memuliakan Allah?", orang yang jiwani bertanya, "Apa keuntungannya bagiku?" Gereja masa kini terlalu sering melayani pencarian keuntungan pribadi ini, daripada mencari kemuliaan Allah.

            Dalam kitab 1 Korintus 2:14–15, Paulus menulis:

            "Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain." TB

            Manusia jiwani tidak dapat memahami kebenaran rohani karena ia harus melakukannya dengan roh; ia hanya terhubung dengan hal-hal yang menggugah jiwanya, yaitu emosinya. Seseorang mungkin termotivasi oleh sifat jiwani nya untuk memberikan persepuluhan dan/atau persembahan yang besar kepada gereja, tetapi motivasi yang tidak tepat ini akan menjadikannya sia-sia.

            Orang-orang yang hidup dalam alam jiwani mudah sekali terbawa arus dan terjerumus dalam penyesatan. Hal ini hanya dapat dihindari dengan kemampuan untuk membedakan antara alam rohani dan alam jiwani.

            3. Alam Yang Dikuasai Oleh Roh Jahat

            Satu tingkat di bawah sifat jiwani adalah alam yang dikuasai oleh roh jahat. Pola perkembangan dari sifat duniawi ke sifat jiwani lalu ke alam yang dikuasai oleh roh jahat mungkin paling baik digambarkan dalam kisah di Perjanjian Lama oleh Harun, seorang imam besar Israel yang membuat patung emas. Kitab Keluaran 32:1-6 menggambarkan kejatuhannya:

            “Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: ”Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir – kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia…””

            Ada beberapa detail penting dalam ayat ini yang perlu diperhatikan. Pertama, bangsa itu mengakui Musa sebagai penyelamat mereka—"orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir"—bukannya mengenali pemeliharaan Allah terhadap mereka. Fokus mereka pada pemimpin manusia berubah menjadi penyembahan berhala.

            Petikan ini juga diakhiri dengan penyembahan berhala—"Mereka duduk makan dan minum, lalu bangkit untuk bersenang-senang." (ayat 6). Bersenang-senang adalah inti dari penyembahan berhala, dan ketika penyembahan kita menjadi seperti bersenang-senang, kita telah merosot dari rohani ke jiwani, dan—pada akhirnya—ke alam yang dikuasai oleh roh jahat.

            Banyak dari apa yang kita sebut "penyembahan" di gereja-gereja kita bukanlah penyembahan sama sekali. Kebanyakan hal Itu berpusat pada diri sendiri, berfokus pada bagaimana cara mendapatkan kesembuhan, berkat, dan penyediaan lainnya dari Allah. Banyak musik yang digunakan dalam ibadah gereja masa kini lebih menyentuh jiwa, menggugah dengan cara yang sama seperti pada musik sekuler.

            Memulihkan Kekaguman

            Di dalam Perjanjian Baru, kitab Ibrani mendorong kita untuk mempertahankan kekaguman akan Allah, sebagaimana yang diilhami oleh peristiwa-peristiwa di Perjanjian Lama, seperti dalam penghakiman Allah atas Sodom dan Gomora. Kitab Ibrani 12:28-29 mengatakan,

            "Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan." TB

            Contoh penghakiman kudus Allah dalam Perjanjian Baru adalah ketika Ananias dan Safira mati seketika karena berbuat curang dengan persembahan mereka. “Maka sangat ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu” (Kisah Para Rasul 5:11 TB).

            Seberapa besar kekaguman yang kita temukan di gereja masa kini? Pada suatu musim panas di Inggris, saya berbincang dengan seorang teman pendeta yang berkomentar, “Saya bertemu dengan orang-orang yang berbicara tentang Allah seolah-olah Dia adalah seseorang yang mereka temui di kedai bir.”

            Banyak orang memandang Allah sebagai teman biasa atau sahabat dekat. Dia memang mengundang kita untuk bersekutu dan bergaul karib dengan-Nya, tetapi kita tidak boleh kehilangan rasa kagum akan kekudusan Allah. Seringkali, hilangnya rasa kagum ini membuka jalan bagi tindakan sembrono dan sikap kurang ajar yang tidak alkitabiah. Sebagaimana pernah dikatakan Charles Finney, "Allah tidak pernah memakai seorang pelawak untuk memeriksa hati nurani."

            Salah satu pelayanan Roh Kudus adalah menginsafkan kita akan dosa. Di mana tidak ada keinsafan, kemungkinan besar pekerjaan Roh Kudus juga tidak ada.

            Menghindari Jebakan Setan

            Kondisi umat manusia tidak akan membaik. Dalam kitab 2 Timotius 3:2-4, Paulus memperingatkan seperti apa manusia di akhir zaman ini. Ia menyebutkan delapan belas kerusakan moral yang akan menjadi umum di kehidupan manusia:

            “Manusia akan mementingkan dirinya sendiri, bersifat mata duitan, sombong dan suka membual. Mereka suka menghina orang, memberontak terhadap orang tua, tidak tahu berterima kasih, dan membenci hal-hal rohani. Mereka tidak mengasihi sesama, tidak suka memberi ampun, mereka suka memburuk-burukkan nama orang lain, suka memakai kekerasan, mereka kejam, dan tidak menyukai kebaikan. Mereka suka mengkhianat, angkuh dan tidak berpikir panjang. Mereka lebih suka pada kesenangan dunia daripada menuruti Allah... ” (BIMK)

            Kita memperhatikan bahwa daftar ini diapit oleh kasih yang salah tempat—cinta akan diri sendiri, cinta akan uang, dan cinta akan kesenangan dunia. Sifat jiwani, atau cinta akan diri sendiri, memberi jalan masuk bagi kejahatan. Ayat 5 menyimpulkan, “…Meskipun secara lahir, mereka taat menjalankan kewajiban agama, namun menolak inti dari agama itu sendiri. Jauhilah orang-orang yang seperti itu.” Meskipun mereka taat menjalankan kewajiban agama—kemungkinan besar mereka mengaku sebagai orang Kristen—orang-orang yang digambarkan di sini menuruti cinta akan diri sendiri dan berbagai keburukan yang menyertainya.

            Setan sangat bersukacita atas orang-orang yang mencintai dan meninggikan diri mereka sendiri, karena dialah yang pertama kali menunjukkan sikap ini. (Lihat kitab Yesaya 14:12–15.) Ia menyesatkan orang, mendorong mereka untuk mencintai apapun—uang, kesenangan dunia, kuasa, atau diri mereka sendiri—lebih daripada mereka mengasihi Allah. Sebagai penyimpangan dari sesuatu yang dimaksudkan untuk kebaikan, kasih yang salah tempat dapat menjadikan kita sasaran bagi penyesatan yang dilakukan Setan. Ia mengambil apa yang baik dan murni, mengubahnya menjadi alat untuk menyesatkan dan menghancurkan kita.

            Tuhan Akan Menolong Kita!

            Karena kita sekarang telah menyadari kerentanan kita terhadap penyesatan dan berbagai cara yang digunakan Setan untuk mencoba menawan kita, marilah kita berpaling kepada Tuhan untuk memohon pertolongan-Nya. Maukah Anda berdoa bersama saya?

            *Prayer Response

            Tuhan, aku ingin berdiri teguh dalam kebenaran-Mu di masa-masa kritis ini. Tolong aku untuk tetap fokus kepada-Mu. Aku tidak ingin menyerah pada pergerakan “duniawi, jiwani, dan alam yang dikuasai roh jahat”. Jagalah pandanganku agar tetap tertuju kepada-Mu, Tuhan. Dengan pertolongan-Mu, aku akan melayani-Mu dalam integritas, kebenaran, dan kekuatan. Amin.

            Aku Sudah Berdoa
            4
            Membagikan
            Expand Content

            What People Say

            See how Mencegah Penyesatan has impacted lives across the globe.

            "I've applied the Biblical principles on family relationships from this teaching, and it has completely restored harmony in our home. My teenagers and I now have meaningful conversations about faith, and my marriage has been strengthened in ways I never thought possible."
            Elena R., Brazil
            "The teachings on spiritual warfare completely transformed my approach to daily challenges. I used to feel overwhelmed by life's obstacles, but now I understand how to stand firm in faith. This teaching gave me practical tools I use every single day."
            Sarah K., California
            "After 20 years of struggling with unforgiveness, the Biblical principles shared in this teaching helped me release the bitterness I had been carrying. The step-by-step approach to forgiveness wasn't just theory—it actually worked in my life when nothing else had."
            Michael T., United Kingdom
            "As a new Christian, I was confused about many aspects of faith. These teachings provided clear, Scripture-based explanations that helped build my foundation. I'm especially grateful for how the content made complex concepts accessible without watering down the truth."
            Priya M., India
            "The teaching on God's sovereignty during difficult times came to me exactly when I needed it most. After losing my job and facing health challenges, this message reminded me that God remains in control. It gave me hope when I had none left."
            James L., Australia
            "I've applied the Biblical principles on family relationships from this teaching, and it has completely restored harmony in our home. My teenagers and I now have meaningful conversations about faith, and my marriage has been strengthened in ways I never thought possible."
            Elena R., Brazil
            "The teachings on spiritual warfare completely transformed my approach to daily challenges. I used to feel overwhelmed by life's obstacles, but now I understand how to stand firm in faith. This teaching gave me practical tools I use every single day."
            Sarah K., California

            Kode: TL-L156-100-IND

            Hadiah
            Memberi
            Kirim Masukan