Versi BIMK: “Sebab kita berjuang bukannya melawan manusia, melainkan melawan kekuatan segala setan-setan yang menguasai zaman yang jahat ini. Kita melawan kekuatan roh-roh jahat yang menguasai ruang angkasa.”

In the previous teaching letter, we considered the attributess of one who is fit to reign with Christ. This lesson is about the need to recognise the spiritual nature of the battle.

Sebagai para pengikut Yesus Kristus, kita mendapati bahwa mau tidak mau kita terlibat dalam sebuah konflik besar yang kini sedang terjadi di langit maupun di bumi. Musuh yang kita hadapi ternyata merupakan “oknum- oknum yang tidak berjasad”, yaitu makhluk rohani yang jahat yang berada di alam roh. Dan semuanya mereka membenci segala sesuatu yang benar serta berusaha melanggengkan kekuasaan Iblis atas seluruh muka bumi.

Dalam peperangan ini, orang-orang yang percaya kepada Yesus mendapat tugas yang sangat unik. Karena hanya kepada kitalah Kristus telah mengaruniakan pengertian (wawasan) rohani serta senjata-senjata yang memungkinkan kita untuk mencapai kemenangan. Semua negara politik di dunia dan seluruh angkatan bersenjata mereka tidak mengerti apa-apa mengenai peperangan rohani ini, karena mereka hanya sanggup menangani hal-hal yang bersifat duniawi di alam yang nyata. Mereka juga tidak memiliki kemampuan dan kuasa untuk menghadapi pasukan-pasukan perang Iblis yang beroperasi di alam roh. Bahkan tanpa para pemimpin dunia itu sadari, mereka justru sedang dimanipulasi (dipermainkan) dan dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan jahat itu.

Agar kita bisa menang, tentu kita harus bisa menetapkan serta mendeteksi terlebih dulu, apa dan siapakah kekuatan-kekuatan (“dalang”) yang berada di balik tiap situasi yang sedang kita hadapi sekarang. Selama beberapa bulan belakangan ini, saya telah banyak memikirkan berbagai perkembangan yang terjadi di dalam dunia terutama di Amerika Serikat dan di negara Israel. Saya percaya, oleh karena pertolongan Tuhan, saya sekarang semakin mengerti sarana dan pengaruh besar penuh tipu daya yang akan dipakai Iblis untuk mensukseskan rencananya di akhir zaman ini. Sarana yang hendak dipakai Iblis itu tidak lain adalah paham atau ideologi yang bernama Humanisme.

Selama ini saya berpikir bahwa humanisme itu tidak lebih dari suatu aliran atau paham pemikiran yang sesat, namun tidak terlalu membahayakan. Tetapi ketika ingin menemukan artinya dalam sebuah kamus bahasa Inggris, saya sungguh terkejut membaca penjelasan kamus mengenai filsafat humanisme itu:

"Menurut paham ini tidak ada kekuasaan atau pun nilai moral yang lebih tinggi daripada manusia itu sendiri. Oleh karena itu kita harus menolak segala agama dan memilih untuk percaya akan kemajuan yang bisa dicapai oleh manusia melalui usahanya sendiri."

Saya mulai menyadari bahwa secara spiritual humanisme itu sebenarnya tidak dapat bersifat netral. Sebaliknya, paham ini terang-terangan menyangkal dan menolak otoritas dan kekuasaan Tuhan. Humanisme adalah seperti Bangkitnya Ideologi sebuah keyakinan agama sendiri yang pada dasarnya bersifat anti agama. Tidak heran mengapa paham humanisme bisa dan nyatanya sering diajarkan dalam sistem- sistem pendidikan yang dengan tegas melarang dilakukannya pengajaran agama secara tradisional (seperti sistem pendidikan di Amerika, misalnya).

Maka saya langsung memutuskan untuk menelusuri sejarah humanisme dari zaman ke zaman. Saya pun mulai dengan terlebih dulu mempelajari mimpi Raja Nebukadnezar. Mimpi raja Babilon itu adalah mengenai sebuah patung yang menyerupai manusia, yang kepalanya terbuat dari emas, dada dan lengannya terbuat dari perak, perut dan pahanya dari tembaga dan kedua belah kakinya terbuat dari besi. Menurut penafsiran yang dikemukakan oleh Nabi Daniel, empat logam yang berbeda itu menggambarkan empat imperium atau kerajaan besar dari bangsa-bangsa bukan Yahudi, yang akan secara berturut-turut muncul di dunia. Bagian kepalanya menggambarkan kerajaan Babilon, bagian dada dan lengan menggambarkan kerajaan Media- Persia, bagian perut dan paha menggambarkan Yunani, dan bagian kaki menggambarkan kerajaan Romawi (lihat Daniel 2:31-40).

Saya langsung memperhatikan suatu hal yang sungguh menarik. Ternyata bagian patung tubuh manusia di mana terdapat organ reproduksi (kelamin) itu melambangkan imperium Yunani. Kebetulan latar belakang studi saya adalah di bidang filsafat Yunani kuno, dan karena itu saya langsung memperhatikan fakta tadi. Berbicara mengenai “reproduksi” (keturunan), saya tahu benar bahwa (lebih daripada budaya lainnya) budaya kerajaan Yunani-lah yang diturunkan melalui filsafatnya kepada (direproduksi dalam) kebudayaan-kebudayaan lainnya yang berkembang kemudian.

Kita memiliki banyak catatan sejarah mengenai dua tokoh filsuf Yunani dari zaman dulu itu, yaitu Heraclitus dan Protagoras. Kedua tokoh itulah yang mencetuskan kalimat filosofis yang masih dikenang orang hingga masa sekarang, yaitu:

  1. "Segala sesuatu bersifat mengalir"
  2. "Orang tidak mungkin sampai dua kali menginjakkan kakinya ke dalam (aliran) sungai yang sama"
  3. "Manusia sendirilah yang merupakan tolok ukur untuk segala sesuatu"

Sungguh ajaib! Esensi atau hakikat humanisme sesungguhnya dapat disimpulkan melalui ketiga pernyataan tersebut. Filosofi humanisme mengatakan bahwa segala sesuatu bersifat relatif; tidak ada yang mutlak di bidang moral maupun di bidang hukum; dan otoritas yang tertinggi [yang paling sah dan ber"hak"] di seluruh jagat raya ini adalah manusia sendiri.

Bukanlah tujuan dari penelaahan ini untuk menelusuri bagaimana paham humanisme telah membentuk pola berpikir masyarakat Eropa, dan kemudian melalui masyarakat Eropa juga membentuk pola-pola berpikir yang berlaku dalam peradaban modern (kontemporer). Masyarakat Yunani sangat menyanjung dan mendewakan pikiran. Menurut Aristoteles, definisi Tuhan adalah (tidak lebih dari) “sebuah otak/kecerdasan yang sempurna yang sedang memikirkan dirinya sendiri” – karena sesuatu yang lebih rendah dari itu tidak ada gunanya untuk dipikirkan. Demikianlah, pada akhirnya berkembanglah apa yang disebut paham (filsafat) rasionalisme.

Selain filsafat, salah satu unsur penting lainnya dalam kebudayaan Yunani adalah peran dari pertandingan olah raga para atlet. Pertandingan Olimpiade Yunani sesungguhnya membuktikan bagaimana masyarakat Yunani mendewa-dewakan para atlet. Dan rupanya kecenderungan yang seperti itu mulai muncul lagi di abad modern ini. Acara TV yang paling banyak digemari orang di masa kini adalah pertandingan-pertandingan olah raga internasional yang besar.

Selain itu, masyarakat Yunani pada umumnya kurang menghargai pentingnya peran pernikahan antara pria dan wanita. Mereka berpendapat bahwa hubungan homoseks antara sesama jenis “lebih memuaskan secara intelektual”. Dalam seni patung Yunani bentuk tubuh pria yang dibanggakan biasanya diperlihatkan dalam keadaan telanjang bulat, sedangkan patung wanita hampir selalu diselubungi oleh sebuah jubah atau kain.

Cerita-cerita mengenai para “dewa” dalam mitologi Yunani banyak mencerminkan kelemahan moral yang dimiliki oleh manusia pada umumnya: dewa-dewa itu penuh hawa nafsu, bejat moralnya, mudah cemburu, kejam dan penuh tipu daya. Mereka tidak memiliki kode etik atau moral yang mengikat. Dengan demikian, boleh saja setiap manusia men-dewa-kan diri dan suka menentukan apa yang baik dan buruk berdasarkan pertimbangan moralnya sendiri. Bagaimana pun juga, tidak mungkin masyarakat dapat memiliki gaya hidup dan moral yang lebih tinggi daripada dewa-dewa pujaannya sendiri.

Kebudayaan Barat sekarang ini semakin banyak memperlihatkan pengaruh dari filsafat humanisme Yunani yang tidak baik itu.

Masyarakat (Barat) kini semakin lama semakin terang-terangan menolak untuk percaya kepada adanya (seorang) “Tuhan yang baik dan suci”. Mereka menolak untuk menjunjung tinggi norma-norma hukum yang ditetapkan oleh-Nya. Mereka jelas menolak untuk setia, misalnya, kepada kesepakatan yang pernah dibuat antara Tuhan dengan umat manusia (mula-mula dengan Nabi Musa dan kemudian juga melalui Yesus Kristus). Humanisme pada dasarnya mau menganut paham apapun juga kecuali Kebenaran itu sendiri. Ia bersikap toleran (membolehkan) terhadap apapun juga kecuali Kekudusan. Hal itu semakin terbukti, melihat kesimpulan akhir yang bisa ditarik.

Munculnya Sang Antikris itu sesungguhnya merupakan produk atau hasil akhir dari pola berpikir yang menyanjung- nyanjung manusia itu. Ingat, Antikristus itu memakai sebuah nama yang merupakan “bilangan seorang manusia” (lihat Wahyu 13:18). Dia disebut sebagai manusia durhaka (yang sama sekali tidak peduli hukum) yang pada akhirnya mengacuhkan Ia bersikap toleran (membolehkan) terhadap apapun juga kecuali Kekudusan. Hal itu semakin terbukti, melihat kesimpulan akhir yang bisa ditarik.

Alkitab menyingkapkan bahwa Antikristus itu akan berkuasa atas semua orang yang membenci kebenaran. Tidak heran, Tuhan akan memberi kepada mereka suatu pikiran sesat yang begitu kuat, sehingga mereka akan lebih suka percaya kepada kebohongan. Kebohongan itu tidak berbeda dari dusta pertama yang telah menjerumuskan Adam dan Hawa, nenek moyang kita yang pertama: “Kalian akan menjadi seperti Tuhan” atau “seperti dewa- dewa”. Kebiasaan mereka adalah untuk terus menyanjung-menyanjung kehebatan manusia, seolah-olah bisa menggantikan peran Tuhan. Dan sebagai akibatnya, maka mulailah “sengsara besar” yang dinubuatkan, yaitu suatu masa penderitaan yang luar biasa di seluruh dunia, penderitaan yang lebih mengerikan daripada Holocaust yang pernah terjadi antara tahun 1939-1945 (lihat Matius 24:21-22).

Namun masih ada lagi hal-hal besar yang akan dikerjakan Tuhan baik bagi bangsa Israel maupun bagi Gereja, dan hal-hal itu akan terjadi sebelum di mulainya sengsara besar yang terakhir itu. Akan ada hujan belas kasihan yang besar, disusul dengan suatu hujan penghukuman. Tuhan sedang bersiap- siap melakukan semua ini, dan hal itu terungkap dalam nubuat Zakharia 9:13^{1}: Aku mengayunkan anak-anakmu, hai Sion, terhadap anak-anakmu, hai Yunani.”

Yang dimaksudkan dengan “anak-anak Yunani" itu adalah semua orang yang menganut falsafah humanisme yang menyesatkan tadi. Sedangkan “anak-anak (atau warga) Sion" adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada Sabda Allah yang tidak mungkin salah, yaitu mereka yang berpegang teguh kepada janji-janji Alkitab dan ikatan perjanjian mereka dengan Tuhan. "Warga Sion" ini sebagian di antaranya adalah warga Israel sendiri (secara jasmani) dan juga umat yang mengaku dirinya menjadi bagian dari Gereja Tuhan. Mengenai mereka akan dikatakan: “mereka mengalahkan dia [Iblis] oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut” (Wahyu 12:11). Inilah orang-orang yang hanya mempunyai satu prioritas dalam hidupnya: lebih penting bagi mereka untuk melakukan kehendak Tuhan daripada mempertahankan hidup mereka sendiri.

Sekali lagi kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Bersediakah dan siapkah aku untuk bangkit berdiri sebagai warga Sion dan melawan pasukan yang besar itu?

Dari segi jumlah, kita kalah jauh dibandingkan dengan orang-orang yang menganut paham humanisme. Syukurlah, kita memiliki contoh yang menggembirakan dari Raja Yehuda yang bernama Asa. Ketika itu negerinya mengalami serbuan dari suatu pasukan tentara yang jauh lebih besar. Tetapi kemudian ia berdoa dengan sungguh-sungguh dan dalam sekejap mata Tuhan mengubahkan kekalahan yang sudah tampak di depan mata menjadi kemenangan yang gilang-gemilang. Bagi kita semua yang hidup di zaman sekarang, doa Raja Asa merupakan sebuah contoh ajaib bagaimana kita harus melawan gelombang humanisme yang senantiasa menyanjung diri sendiri itu.

“Ya TUHAN, selain dari pada Engkau, tidak ada yang dapat menolong yang lemah terhadap yang kuat. Tolonglah kami ya TUHAN, Allah kami, karena kepada-Mulah kami bersandar dan dengan nama-Mu kami maju melawan pasukan yang besar jumlahnya ini. Ya TUHAN, Engkau Allah kami, jangan biarkan seorang manusia mempunyai kekuatan untuk melawan Engkau!” (2 Tawarikh 14:11, huruf miring dari penulis)

Sekali lagi kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Bersediakah dan siapkah aku untuk bangkit berdiri sebagai warga Sion dan melawan pasukan yang besar itu?

5
Membagikan